Sabtu, 15 September 2018

MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018

MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018







Memperingati Hari Puisi Nasional 2018 Tepat pada 28 April 2018 saya membacakan mantra puisi di acara Ambon Art Work yang di selenggarakan oleh Paparisa Ambon Bergerak. Saya dan Ecko Saputra Poceratu membacakan puisi bertema perdamaian untuk semua yang hadir di kayu manis cafe.


Selamat Merawat Imajinasi :)

Jangan lupa - SUBCRIBE | LIKE | COMMENT | SHARE

Minggu, 12 Agustus 2018

CE - RI - TA

Aku mungkin terlalu sibuk menenggelamkan diri pada sunyi yang katamu mencekam.

Aku mungkin seringkali terdiam menghabiskan waktu berjam-jam dengan segelas cangkir coklat berpadu dengan sebuah buku bacaan.

Atau mungkin aku seringnya terlihat enggan berlama-lama mengurai cerita dengan mereka-mereka yang kamu biasa sebut teman.

Mungkin aku memang begitu. Mungkin seluruh anggapanmu dan mereka benar bahwa aku demikian.

Tapi percayalah, duduk di hadapanmu sambil mendengarkan ceritamu yang bergulir. Aku jauh dari sekadar senang, bahkan sangat teramat bahagia.

Jadi, bisakah sedikit redakan jarak dan singkirkan rasa yang tidak-tidak agar percakapan di antara kita kembali tercipta dengan nyaman? .

Ambon, 1 September 2017
- Setyawan Samad

Sepasang Matamu

Terkadang aku ingin menjadi matamu yang dengan tenang memandang apa di hadapmu
Menjadi kuat ketika kau sedih bahkan riang untuk perih
.
Menjadi matamu mungkin aku tenang tanpa ada kecemasan lagi
Bagaimana tidak?
Aku tak bayangkan jika rasanya aku menjadi mu yang menatap diriku
.
Ambon, 30 Agustus 2017
- Setyawan Samad

Tengok Merah Putih


Kisah tanah ini pernah menggegerkan
Kisah pejuang yg mencari kebebasan pada tombak bambu runcing berbaur darah yang tumpah dari ujung-ujung liang derita
Membungkuk tua sudahlah engkau kan elok tengok merah putih
.
Dari kisah tanganmu ku sisip sebongkah rasa hormat
Lambaian mata menuju satu titik kemerdekaan walau cemas diterjang usia
Menarilah selagi merah putih ku junjung hingga paham akan kemerdekaan
.
Damai - tawamu dan seruan
Damai - Pusakanagara dan tanah air
Damai - teruntuk kemerdekaan dunia dan Pancasila
Damai - teruntuk kesejahteraan dan merah putih
.
Ambon, 17 Agustus 2017
- Setyawan Samad

Sabtu, 21 Juli 2018

Wisata Rindu



Teruntuk Andro Meda Natalina

Selamat datang kekasih, di pemandian rinduku
Telah ku sediakan perahu untuk pelayaran kita
Di atas perkakas restu dan segenggam ikatan
Menuju dermaga cinta taman surga
Aku siap menjadi jangkar jika kau lelah berlayar
Kan ku siapkan layar pada altar hidup yang berkibar
Pintaku padamu kekasih hati
Temanilah aku menyeberangi rindu
Itulah wisata percintaan kita

Pada kau yang bergelar istri
Ku hadiahkan selilit rindu yang Kudus
Ku kemudikan sama arahnya dan kau pun begitu
Jika kau tak kuat akan gelombang, kita kan sejenak bertepi
Jika aku tertidur pulas, itu berkat kau selimut alami

Kekasih, basahlah bersamaku
Kekal hingga penghujung waktu
Tuhan telah merawat semua di pelaminan rindu
Kita adalah takdir tuhan yang paling berkat di altar cinta laut biru.

Ambon, 21 Juli 2018
- Setyawan Samad

" Selamat menyeberangi wisata rindu yang kekal atas berkat Tuhan "

Selasa, 26 Juni 2018

Dibalik Luka Penantian


Dibalik luka penantian, terdengar segelintir orang menertawai aku yang hendak berdiri hingga tak kunjung pulang oleh luka
.
Dibalik luka penantian, aku tetap tegar walau dihalang canggung bertumpu di sela-sela bahu penuh bercik keringat
.
Dibalik luka penantian, akan ku pahami hal pulang ketika pergi berkat kecewa .
Sebab,
.
Dibalik luka penantian, ku persembahakan malu pada para tuhan untuk satu kepercayaan dalam sendu
.
Dibalik luka penantian, ku hutang semua air tuhan hanya untuk mu sebagai tanda hormat jika aku pulang akan ku temui (lagi) luka
.
- Setyawan Samad, Ambon 09/08/17

Jumat, 22 Juni 2018

Kereta Tujuanmu


Tak banyak yang bisa ku kisahkan bila kau belum melangkah dan beranjak
Sepasang sendal jepit inilah yang akan menemani mu melekat erat di telapak tanah, menumpu semua beban bila mana iya lelah
Karena bukan lagi aku yang hanya melihat mu dari sela-sela kelopak mata dan melambai seakan kau tak ingin kembali
Bawalah iya pergi bila iya telah lelah dan berikan iya kursi bersandar setidaknya iya bisa beristirahat sejenak menepi di balik jendela kereta itu
Dekatmu hari itu aku rasa sudah cukup, sekarang aku telah siapkan kereta ini untuk mu sampai tujuan dan menemui jarak antara kita
.
- Setyawan Samad, Ambon 08/08/17

Bola Mata Senja


Tenang saja mahina, kini kita terlarut dalam senja yang bertumpu di balik cinta kita.
Bertataplah jika kamu mulai lelah dan bersandarlah di bahu ketenangan
Berkacalah jika kamu mulai bosan dengan dengkuran para bajingan jalanan
Tenang saja mahina, kini kita dengar apa kata tuhan untuk satu pasang bola mata liar yang mencari pasangan.
Biarlah kali ini menjadi tempat terakhir untuk cinta kita bertepi mahina.
.
- Setyawan Samad, Ambon 05/08/17

Luka Tua


Seperti apa yang di lakukan VOC ke para Upu, perjuangan ini masih membekas ketika saudara ini saling Menjajah
Kepada kesadaran dan ke prihatinan, dan sebagai mana yang semesta tahu
Jagalah persaudaraan hingga kita bersahaja dengan bakasang dan pala
Karena,
Kita anak zaman yang tak luput dari genggaman parang dan salawaku
Kita anak zaman yang tak luput dari gong 9 dan tiwal
Kita anak zaman yang tak luput dari kabata-kabata para Upu
Maka dari apa pun itu percayalah kita punya Banda Neira .
- Setyawan Samad, Ambon, 31/07/17

Marina Dan Takiri Kesayangan



Ketahuilah mahina, akan ku siap kan kadera sederhana dari gaba-gaba, jika kelak kau pulang dari perek dan membawa pala tertumpuk di takiri kesayanganmu
Aku sudah siap dengan cakalang dan teh kayu manis, yang siap kita hidangkan untuk perayaan senyum lelah di balik pohon taliu itu, hingga demi apa pun itu, kau adalah mahina yang penuh tewer pala dan aku masih beraroma amis di roda-roda tanjung burang tanpa tahu bahwa cinta kita sedang tidak baik-baik saja.

- Setyawan Samad, Neira 28/07/17

Selepas Kerinduan



Seperti apa yang angin janjikan, berhembus dan berlalu tak tersirat namun rasa membekas
Makin hari apa yang di janji ingin selalu di tagih sebab kedatangan sesaat waktu itu
Entah berhembus dari puncak belgica atau hembusan dari puncak-puncak liar banda naira

Semerindu itukah aku dengan kedatangan mu
Setenang itukah dirimu berteman hujan
Hingga tetesan membelai di kaki-kaki pantai dirimu pun masih samar ku tatap
Haruskah ku hanya menjadi penikmat tanpa tau indahnya senja dari ujung dermaga
Beralas ketenangan, bertatap tanjung mesra, berteman karaka
Sampai aku lupa akan kehadiranmu

Namun sekali lagi kau datang tanpa mengetuk punggung, tanpa gengaman, tanpa bertatap lagi untuk kesekian kali
Haruskah ku terjal gunung api dan menatap dirimu dari puncak lepas dan ku rangkul hatta dan syahril, run dan ai, neira dan banda besar
Sudahlah kali ini aku hanya menutup mata, melangkahkan kaki dan tetap bersamamu di balik banda neira.
.
- Setyawan Samad, Neira 23/07/17

MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018

MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018 Memperingati Hari Puisi Nasional 2018  Tepat pada 28 April 2018 saya membacakan mantra puisi di aca...