Aku mungkin terlalu sibuk menenggelamkan diri pada sunyi yang katamu mencekam.
Aku mungkin seringkali terdiam menghabiskan waktu berjam-jam dengan segelas cangkir coklat berpadu dengan sebuah buku bacaan.
Atau mungkin aku seringnya terlihat enggan berlama-lama mengurai cerita dengan mereka-mereka yang kamu biasa sebut teman.
Mungkin aku memang begitu. Mungkin seluruh anggapanmu dan mereka benar bahwa aku demikian.
Tapi percayalah, duduk di hadapanmu sambil mendengarkan ceritamu yang bergulir. Aku jauh dari sekadar senang, bahkan sangat teramat bahagia.
Jadi, bisakah sedikit redakan jarak dan singkirkan rasa yang tidak-tidak agar percakapan di antara kita kembali tercipta dengan nyaman? .
Ambon, 1 September 2017
- Setyawan Samad
Sebuah perjalanan menuju kemuliaan lewat Puisi dan berlayar ke dermaga kesederhanaan demi cinta tulus kepada seseorang. Apa yang aku tulis hari ini adalah perlayaran kita di masa depan nanti, sebagai saksi keringat dari tangan-tangan anak desa untuk menduniakan keikhlasan kata.
Minggu, 12 Agustus 2018
Sepasang Matamu
Terkadang aku ingin menjadi matamu yang dengan tenang memandang apa di hadapmu
Menjadi kuat ketika kau sedih bahkan riang untuk perih
.
Menjadi matamu mungkin aku tenang tanpa ada kecemasan lagi
Bagaimana tidak?
Aku tak bayangkan jika rasanya aku menjadi mu yang menatap diriku
.
Ambon, 30 Agustus 2017
- Setyawan Samad
Menjadi kuat ketika kau sedih bahkan riang untuk perih
.
Menjadi matamu mungkin aku tenang tanpa ada kecemasan lagi
Bagaimana tidak?
Aku tak bayangkan jika rasanya aku menjadi mu yang menatap diriku
.
Ambon, 30 Agustus 2017
- Setyawan Samad
Tengok Merah Putih
Kisah tanah ini pernah menggegerkan
Kisah pejuang yg mencari kebebasan pada tombak bambu runcing berbaur darah yang tumpah dari ujung-ujung liang derita
Membungkuk tua sudahlah engkau kan elok tengok merah putih
.
Dari kisah tanganmu ku sisip sebongkah rasa hormat
Lambaian mata menuju satu titik kemerdekaan walau cemas diterjang usia
Menarilah selagi merah putih ku junjung hingga paham akan kemerdekaan
.
Damai - tawamu dan seruan
Damai - Pusakanagara dan tanah air
Damai - teruntuk kemerdekaan dunia dan Pancasila
Damai - teruntuk kesejahteraan dan merah putih
.
Ambon, 17 Agustus 2017
- Setyawan Samad
Langganan:
Postingan (Atom)
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018 Memperingati Hari Puisi Nasional 2018 Tepat pada 28 April 2018 saya membacakan mantra puisi di aca...
-
Ketahuilah mahina, akan ku siap kan kadera sederhana dari gaba-gaba, jika kelak kau pulang dari perek dan membawa pala tertumpuk di taki...
-
Tenang saja mahina, kini kita terlarut dalam senja yang bertumpu di balik cinta kita. Bertataplah jika kamu mulai lelah dan bersandarlah...
-
Dibalik luka penantian, terdengar segelintir orang menertawai aku yang hendak berdiri hingga tak kunjung pulang oleh luka . Dibalik luk...
