Aku mungkin terlalu sibuk menenggelamkan diri pada sunyi yang katamu mencekam.
Aku mungkin seringkali terdiam menghabiskan waktu berjam-jam dengan segelas cangkir coklat berpadu dengan sebuah buku bacaan.
Atau mungkin aku seringnya terlihat enggan berlama-lama mengurai cerita dengan mereka-mereka yang kamu biasa sebut teman.
Mungkin aku memang begitu. Mungkin seluruh anggapanmu dan mereka benar bahwa aku demikian.
Tapi percayalah, duduk di hadapanmu sambil mendengarkan ceritamu yang bergulir. Aku jauh dari sekadar senang, bahkan sangat teramat bahagia.
Jadi, bisakah sedikit redakan jarak dan singkirkan rasa yang tidak-tidak agar percakapan di antara kita kembali tercipta dengan nyaman? .
Ambon, 1 September 2017
- Setyawan Samad
Sebuah perjalanan menuju kemuliaan lewat Puisi dan berlayar ke dermaga kesederhanaan demi cinta tulus kepada seseorang. Apa yang aku tulis hari ini adalah perlayaran kita di masa depan nanti, sebagai saksi keringat dari tangan-tangan anak desa untuk menduniakan keikhlasan kata.
Minggu, 12 Agustus 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018 Memperingati Hari Puisi Nasional 2018 Tepat pada 28 April 2018 saya membacakan mantra puisi di aca...
-
Ketahuilah mahina, akan ku siap kan kadera sederhana dari gaba-gaba, jika kelak kau pulang dari perek dan membawa pala tertumpuk di taki...
-
Tenang saja mahina, kini kita terlarut dalam senja yang bertumpu di balik cinta kita. Bertataplah jika kamu mulai lelah dan bersandarlah...
-
Dibalik luka penantian, terdengar segelintir orang menertawai aku yang hendak berdiri hingga tak kunjung pulang oleh luka . Dibalik luk...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar