Sebuah perjalanan menuju kemuliaan lewat Puisi dan berlayar ke dermaga kesederhanaan demi cinta tulus kepada seseorang. Apa yang aku tulis hari ini adalah perlayaran kita di masa depan nanti, sebagai saksi keringat dari tangan-tangan anak desa untuk menduniakan keikhlasan kata.
Jumat, 22 Juni 2018
Selepas Kerinduan
Seperti apa yang angin janjikan, berhembus dan berlalu tak tersirat namun rasa membekas
Makin hari apa yang di janji ingin selalu di tagih sebab kedatangan sesaat waktu itu
Entah berhembus dari puncak belgica atau hembusan dari puncak-puncak liar banda naira
Semerindu itukah aku dengan kedatangan mu
Setenang itukah dirimu berteman hujan
Hingga tetesan membelai di kaki-kaki pantai dirimu pun masih samar ku tatap
Haruskah ku hanya menjadi penikmat tanpa tau indahnya senja dari ujung dermaga
Beralas ketenangan, bertatap tanjung mesra, berteman karaka
Sampai aku lupa akan kehadiranmu
Namun sekali lagi kau datang tanpa mengetuk punggung, tanpa gengaman, tanpa bertatap lagi untuk kesekian kali
Haruskah ku terjal gunung api dan menatap dirimu dari puncak lepas dan ku rangkul hatta dan syahril, run dan ai, neira dan banda besar
Sudahlah kali ini aku hanya menutup mata, melangkahkan kaki dan tetap bersamamu di balik banda neira.
.
- Setyawan Samad, Neira 23/07/17
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018
MANTRA HARI PUISI NASIONAL 2018 Memperingati Hari Puisi Nasional 2018 Tepat pada 28 April 2018 saya membacakan mantra puisi di aca...
-
Ketahuilah mahina, akan ku siap kan kadera sederhana dari gaba-gaba, jika kelak kau pulang dari perek dan membawa pala tertumpuk di taki...
-
Tenang saja mahina, kini kita terlarut dalam senja yang bertumpu di balik cinta kita. Bertataplah jika kamu mulai lelah dan bersandarlah...
-
Dibalik luka penantian, terdengar segelintir orang menertawai aku yang hendak berdiri hingga tak kunjung pulang oleh luka . Dibalik luk...

💞
BalasHapusMakasih Sinta :)
Hapus